Business & Profile

Memaknai Kemerdekaan Bersama Toto Sukarno Putra

Menikah dengan Kartini Manoppo pada tahun 1959 s/d 1968,  Bung Karno dikarunia seorang putra tunggal bernama Toto Suryawan Sukarno Putra yang lahir di Jerman pada tanggal 17 Juli 1967.

Seberapa besar rasa bangga Anda menjadi anak dari Bung Karno?

Ketika rakyat ini bangga dengan Sukarno, begitupun dengan saya yang pastinya sangat bangga sekali bisa mewarnai bangsa yang merdeka ini. Dan bagi saya, kemerdekaan harus diwujudkan dengan tindakan yang sesuai dengan ajaran yang diterapkan Bapak. Seperti jiwa nasionalisme dan semangat kebersamaan. Sehingga, kedepan bisa lebih baik lagi dari apa yang telah kita lakukan saat ini.

Menurut Anda, bagaimana  jiwa nasionalisme di kalangan pemuda saat ini ?

Yang pasti, mereka tetap ingin mempertahankan jiwa nasionalismenya. Namun, budi pekerti yang ada saat ini harus dibangun kembali.

 Apa ada beban membawa nama besar Sukarno?

Saya tidak terlalu seterkenal anak-anak Sukarno yang lain. Hal tersebut merupakan suatu keberuntungan bagi saya, dimana hanya orang-orang tertentu saja yang tahu tentang saya. Jadi saya  bisa bebas  makan di warteg, bergaul sana sini tanpa membawa satu identitas diri. Kecuali pada saat saya ikut dalam Konferensi Asia Afrika mewakili delegasi Indonesia.

Nah, pada saat itulah  mereka tahu siapa saya. Dimana pada saat tersebut saya harus bisa membawa diri karena bertemu dengan kepala negara se-Asia Afrika. Saya harus bisa menempatkan diri dimanapun berada.

Pada keseharianya, saya dengan kakak-kakak saya hidup apa adanya.

Mungkin sebagian orang mempersepsikan bahwa anak-anak Sukarno hidupnya mewah, padahal tidak.  Untuk aktivitas sehari-hari, saya selalu  naik motor, karena profesi pekerjaan menuntut seperti itu, seperti layaknya masyarakat biasa yang tidak menunjukkan kelas apapun.

Saya berbaur dengan masyarakat sekitar, tidak ada yang kami tutup-tutupi. Dulu kami pernah mengalami masa terpuruk pada jaman orde baru, di situlah kami jadi tertempa, dan pada saat itu kami bangkit dan berdikari.

Yang dimaksud dengan berdikari adalah keberhasilan yang dihasilkan dari usaha kita sendiri.

 Teladan apa yang diambil dari Sukarno dalam kehidupan sehari-hari?

Pada saat bapak meninggal, saya baru berusia 3 tahun. Dari buku-buku peninggalan bapak, almarhumah ibu saya menurunkan materi pendidikan yang sama seperti apa yang bapak (Sukarno) berikan (materi pendidikan) kepada ibu saya.

Beliau memang memiliki banyak istri, dan  beliau memberikan materi pendidikan (walaupun secara tidak langsung) kepada para istrinya. Mendidik itu dilakukan seperti sedang melakukan pendekatan kepada rakyat. Saya juga senang menulis, berpuisi, berorganisasi dan berpolitik.

Kelebihan menjadi anak Bung Karno dibandingkan rakyat biasa?

Semuanya sama saja. Bapak selalu mengajarkan jika ingin bahagia, segala sesuatunya harus diperjuangkan. Jadi, tidak ada perlakuan yang spesial atau istimewa dari negara ini buat saya.

Inipun sejalan dengan ajaran yang diterapkan  Bapak, yaitu ajaran marhaenisme yang mengajarkan agar selalu dekat dengan rakyat dan selalu merasa sama dengan rakyat biasa.

Kalaupun ada kelebihan, sebatas rasa kekaguman saja dari orang-orang tertentu atas perjuangan Bapak terhadap negara ini.

Pesan untuk generasi penerus dalam memaknai kemerdekaan?

Selalu pertahankan jati diri bangsa ini. Selalu bangga dengan budaya bangsa yang kita miliki. Seperti bangga menggunakan batik sebagai identitas bangsa Indonesia yang mendunia.

Teks : Indra || Photo : Indra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FOLLOW @ INSTAGRAM