Karina salim
Business & Profile

Karina Salim : Isi Kemerdekaan dengan Prestasi

Di tengah kesibukannya yang baru saja merampungkan syuting produk beauty, juga menyelesaikan rekaman untuk single teranyarnya dan menanti rilis film terbaru yang rencananya akan tayang di bulan November, Karina Salim meluangkan waktunya sejenak untuk berbagi kisah seputar perjuangan para pahlawan dalam menyambut HUT kemerdekaan RI.

Perempuan kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1991 mengatakan, selain di dunia entertain, dirinya lebih memotivasi di bidang pendidikan. Bahkan, saat tahun 2014, dirinya ingin sekali berangkat ke Boston untuk melanjutkan pendidikan S2. Tetapi, karena ada project film, akhirnya program studi itu tidak jadi.

Semua ini dilakukannya karena teringat beliau (H. Agus Salim) yang sangat mengutamakan pendidikan. “Menurut aku, beliau dan opah aku prof. Emil Salim (pakar ekonomi dan menteri kabinet di era Soeharto) yang mementingkan pendidikan diatas segala-galanya. Hal ini jadi  motivasi aku untuk selalu ingat sampai kapanpun, bahwa pekerjaan yang aku jalani  ujung-ujungnya aku harus achieve another dream untuk menimba ilmu lagi selanjutnya,” ungkapnya.

Terkait cerita positif yang berkembang tentang beliau, Karina memastikan bahwa sudah banyak orang yang mengetahui keahliannya. “Menurut aku pribadi, yang sangat luar biasa adalah beliau bisa menguasai beberapa bahasa.  Dimana, saat itu belum ada internet, begitupun dengan jumlah buku yang tidak sebanyak sekarang, bahkan masih jarangnya tempat kursus, namun beliau tetap bisa menguasainya. Jadi, menurutku itulah bentuk dedikasi beliau. Setiap hari beliau membaca buku sampai malam. Sehingga beliau menjadikan dirinya sebagai tempat belajar untuk dirinya sendiri,” ujarnya.

Dari beliau, Karina mengaku banyak sekali pelajaran yang bisa dipetiknya. “ Yang pasti, aku selalu concern dengan bahasa. Aku ingin sekali belajar bahasa Jepang dan Jerman. Sayangnya, setiap aku kursus di tengah jalan aku berhenti karena kesibukan. Bahkan, melihat hal ini, orang tua suka mengingatkanku tentang beliau yang bisa belajar di tengah kesibukan dan tanpa bantuan siapa-siapa di zaman itu. Jadi, intinya aku termotivasi, harus bisa belajar apapun tanpa kenal batas. Ilmu pelajaran inilah yang bisa memungkinkan aku dapat saat ini. Sedangkan untuk sikap keteladanan yang bisa ditiru dari beliau salah satunya adalah kedisiplinan dan bagaimana dia selalu menomorsatukan pendidikan,” ucap gadis berdarah Minangkabau ini.

Lebih lanjut, Karina menuturkan bahwa menjadi seseorang yang memiliki garis keturunan pahlawan tidak selalu mendapatkan perlakuan istimewa. Bahkan, tidak ada kelebihan tersendiri yang dirasakannya. Masih sama saja dengan masyarakat pada umumnya.

“Paling setidaknya aku di remind oleh opah-opah aku ini terkait profesi aku yang terjun ke dunia entertainment yang memungkinkan untuk dikenal orang lebih banyak. Aku bertanggung jawab untuk membawa nama besar Salim. Misalnya, beberapa kali aku mendapatkan tawaran film dengan adegan yang harus terbuka, aku tidak mungkin ambil. Aku lebih terbatas untuk ambil peran karena aku harus menjaga baik nama besar Salim,” lanjutnya.

Karina mengakui membawa nama  besar keluarga awalnya memiliki beban tersendiri dan agak memberatkan, namun akhirnya terbiasa dengan menyandang keturunan pahlawan H. Agus Salim. “Itu sudah menjadi kontrak antara aku dan keluarga sebelum terjun kedunia entertainment. Yang pasti, kalau ingin terjun ke dunia entertain aku harus bisa  menjaga nama baik keluarga, pesan opah,” ungkapnya.

Menjaga nama baik itu akhirnya dibuktikan Karina melalui prestasi yang diraihnya dalam karirnya di dunia entertain. “Ada film pertama aku yang judulnya What They Don’t Talk About When They Talk About Love menjadi film pertama dari Indonesia yang berkompetisi di Sundance film festival. Berangkat bersama Nicolas Saputra dan Ayushita bersama sutradara dan produser. Aku senang bisa kesana dan acting ku dipuji oleh salah satu media disana, aku diliput secara khusus dan ini menjadi pengalaman pertamaku yang mengesankan dalam bermain film. Walaupun filmnya tidak booming di Indonesia, setidaknya aku bisa memberikan suatu kontribusi dimana film Indonesia bisa diputar disana dan mendapatkan apresiasi positif,” jelasnya.

Kedepan, Karina berencana ingin membuat album dan ingin fokus di film. Dari sisi pendidikan, Karina berharap kedepannya bisa menyelesaikan gelar S2 yang belum tercapai hingga kini. Dirinya juga tertarik untuk mengabdi untuk menjadi dosen. Namun, Karina juga tidak mau menyiakan gelar sarjana ekonomi yang melekat dalam dirinya. Oleh karena itu, aku create to do something dengan menjalankan bisnis.

Teks : Anggi / indra || Foto : Indra

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

FOLLOW @ INSTAGRAM